Selasa, 11 Oktober 2011

Saya Perempuan



Di dunia ini semua diciptakan berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada tinggi ada pendek, ada kanan ada kiri, ada laki-laki ada perempuan serta masih banyak hal lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu terutama yang secara kasat mata oleh manusia. Dalam konteks kemanusiaan, topik yang sering kita jumpai adalah pembahasan mengenai perempuan dan laki-laki. Pembahasan mengenai topik tersebut pastilah sangat panjang, menyangkut banyak aspek, melibatkan banyak tokoh, menggunakan berbagai macam sudut pandang bahkan telah menjadi sebuah permasalahan yang klasik dalam kehidupan ini.
Organisasi sebagai salah satu produk dari kemanusiaan tentunya juga mengalami pembahasan mengenai perempuan dan laki-laki. Dalam konteks organisasi dua hal yang berbeda tersebut terkadang memang 'dibedakan' demi tercapainya tujuan organisasi. HMI sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan tertua di Indonesia mempunyai tujuan “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah subhanahu wata'ala”, juga melakukan proses tersebut untuk mempermudah merealisasikan tujuannya. Dalam organisasi HMI, dibentuk beberapa badan khusus seperti yang tercantum dalam pasal 15 Anggaran Dasar HMI, salah satunya adalah Korps HMI-Wati. Badan yang menaungi HMI-Wati ini didirikan pada tanggal 2 Jumadil Akhir 1386 H bertepatan tanggal 17 September 1966 M dalam Kongres VIII di Kota Solo, dimana sebelum itu tidak ada badan khusus di HMI yang mewadahi HMI-Wati untuk merespon isu-isu tentang perempuan. Oleh karenanya KOHATI berdiri untuk mencapai tujuan HMI yang terkonsentrasi pada pemenuhan keadilan terhadap perempuan. KOHATI merupakan lembaga khusus HMI yang berfungsi sebagai wadah membina, mengembangkan dan meningkatkan potensi HMI-wati dalam wacana dan dinamika gerakan perempuan. Untuk menjalankan fungsinya tersebut, maka KOHATI berperan sebagai pencetak dan pembina muslimah sejati untuk menegakkan dan mengembangkan nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Muslimah-muslimah sejati inilah yang kemudian akan menjadi agen-agen perubahan yang membawa perempuan menuju keadilan. Namun seiring berjalannya waktu, arah tujuan KOHATI menjadi terasa hambar dan berkecenderungan lenyap dengan sendirinya, karena yang terlihat saat ini KOHATI hanyalah sebuah perhiasan saja ataupun hanya kelengkapan atribut organisasi saja, yang hanya bisa dilihat tanpa dapat kita rasakan fungsi dan perannya dalam membantu pencapaian tujuan HMI.
Jika kita telusuri bagaimana hal tersebut bisa terjadi, ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Dari beberapa faktor tersebut yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa para kader HMI-Wati dewasa ini hanya menganggap dirinya 'perempuan'.  “SAYA PEREMPUAN....” itulah frase yang sering dilontarkan menjadi alasan dan frase itu pula menjadi salah satu substansi secara garis besar. Dalam posisinya sebagai perempuan mereka membatasi diri karena keperempuanannya itu. Budaya, keluarga, studi dan banyak hal lain yang dihubung-hubungkan dengan permasalahan ini.


Sebagai contoh alasan keluarga yang dibawa dalam hal ini, dimana keluarga tidak menyetujui anaknya untuk tidak mengikuti organisasi. Tapi coba kita lihat dari sisi lain, ketika seorang anak melihat konser musik, pergi ke mall, pacaran, main-main yang tak berguna, seolah-olah orang tua malah menyetujui dan mengizinkan bahkan lebih cenderung menganjurkan anaknya untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna tersebut. Kita serasa melihat sebuah fenomena yang tidak wajar, rasanya tidak mungkin orang tua membiarkan anaknya menjadi orang bodoh, tidak mungkin pula orang tua menginginkan anaknya tidak berguna. Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya pintar, berguna bagi nusa, bangsa dan agama, bahagia dunia dan akhirat dan masih banyak harapan-harapan para orang tua yang ditujukan pada anak-anaknya. Akan tetapi, mengapa pada proses untuk merealisasikan harapan tersebut terjadi fenomena yang sangat bertolak belakang? Apa mereka tidak tahu proses apa yang harus dilakukan seorang anak untuk mencapai harapan yang mereka impikan? Apa mereka perlu diberi tahu jika salah satu solusinya adalah berorganisasi? Karena dalam organisasi seorang anak dipersiapkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin yang siap terjun di masyarakat nantinya dan tentunya juga dipersiapkan untuk memenuhi harapan-harapan dari orang tua anak tersebut. Jadi kalau kita sadari, sebenarnya tidak ada satu alasan bagi orang tua untuk melarang anaknya untuk berorganisasi. Terus kenapa fenomenanya seperti itu? Problemnya dimana? Setelah kita amati, ternyata seorang anak dewasa  lebih pintar meyakinkan orang tua untuk mengijinkan mereka jalan-jalan di mall ketimbang beraktivitas dalam organisasi.
Dari contoh yang sudah disajikan dapat kita tarik benang merah sehingga menjadi sebuah kesimpulan bahwa ternyata alasan keluarga, budaya, studi dan lain sebagainya hanyalah sebuah payung kemalasan belaka dari seseorang yang tidak ingin berkembang, yang hanya ingin instan dan enaknya saja dalam menjalani hidup terutama meraih sebuah kesuksesan.
Kasus-kasus seperti itu ternyata intinya adalah kesadaran dari seorang individu yang menghambat sebuah organisasi untuk berkembang. Di HMI pada umumnya dan KOHATI pada khususnya mengalami hal yang sama. Di KOHATI sangat miris sekali apabila kita lihat sekarang ini, padahal ruang khusus untuk perempuan banyak dan terbuka lebar, namun akan menjadi sebuah kesalahan hidup apabila tidak dimanfaatkan.
Dan, mohon jangan jadikan “SAYA PEREMPUAN...” sebagai sebuah alasan untuk membatasi diri dalam berekspresi dan beraktualisasi karena hal semacam itu yang dapat mengganggu kemajuan seorang perempuan. Tidak akan pernah ada kata menyesal apabila seorang perempuan berorganisasi, tidak akan dirugikan pula jika kita berorganisasi, yakinlah semua dapat teratasi termasuk masalah keluarga dan lain sebagainya.
YAKUSA...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar